(Jika kamu membaca 'kita' kemudian langsung nyaut dalam hati 'Kita? Lo aja kali, gue nggak' atau 'Kita? Lo aja kali sama temen-temen lo' saya berharap kamu masih diterima dengan baik di pergaulan.)
Ketika masih SD, tentu keresahan yang sering terjadi dan udah kita ketahui bersama adalah buang air besar di sekolah. Entah bagaimana proses mental dan kondisi lingkungan saat itu memang membuat seolah-olah proses alamiah tersebut menjadi hal yang memalukan dan tak pantas bagi seseorang yang ingin memiliki derajat sosial lebih tinggi dibanding anak yang lain. Selalu ada rasa insecure ketika balik masuk kelas setelah dari kamar mandi dan ngeliat gelagat temen-temen yang seakan mulai menebak-nebak ditambah dengan gesture mengendus-endus.
Saya nggak tau apakah Kemendikbud di era Pak Jokowi menangani dengan serius kasus ini. Namun tips dari saya apabila kamu nggak bisa nahan buang air besar dan nggak bisa nahan malu, cobalah untuk mengantongi batu ke saku celana. For me, it works! Saya pernah pesantren kilat selama 5 hari dan harus ngantri untuk makai kamar mandi. Di saat rasa ingin buang air besar itu menyeruak, semesta mendukung saya untuk bertemu dengan sebuah batu yang kemudian selama 4 hari selalu ada dalam kantong celana saya. Sebuah ilmu dan pengalaman berharga yang saya dapat selama pesantren kilat.
Lanjut ke SMP dan SMA, di mana masa SMP bagi saya jauh lebih menyenangkan ketimbang masa SMA, akan saya lewati mengingat judul tulisan ini adalah keresahan di dewasa muda (maksud saya usia orang kuliah atau sederajat) dan juga supaya bisa langsung pada intinya. (Dalam kata lain, saya nggak mau nulis panjang-panjang dan siapa juga yang mau baca.)
Akhirnya tiba di titik resah dengan masa depan.
Ketika pikiran nggak jauh-jauh dari "Anjir hidup kok gini-gini aja ya." atau "Kalo udah lulus mau ngapain? Lanjut kuliah atau cari kerja ya?"
Keresahan itu bertambah ketika ngeliat temen-temen sepantaran yang udah magang sana sini, punya proyekan yang ngehasilin uang, atau upload foto hasil kerjanya di Instagram. Jadi semakin merasa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Karena nggak mau terus-terusan ngerasa inferior, alhasil saya mulai mengurangi main sosial media, karena bagi saya main game di laptop lebih menarik. Ya, ini prinsip.
Kita juga selalu dipesankan bahwa anak harus bisa lebih baik dari orangtuanya. Apalagi bagi anak laki-laki yang nantinya harus bisa menjadi kepala rumah tangga dan menghidupi keluarga. Dalam hal ini saya bisa sedikit bersyukur, karena orangtua saya nggak menjabat sebagai presiden negara. Saya nggak kebayang kalo punya Ayah seorang presiden dan dituntut untuk lebih baik dari beliau lalu saya harus mulai mencoba mencalonkan diri jadi gubernur. Demi berbakti pada orangtua.
Belum selesai sampai di situ, kadang kita sering ngebandingin hidup kita dengan hidup orang lain. Saya yang udah kepala dua suka minder sama orang yang namanya Gianlugi Donnarumma. Usianya masih 17 tahun tapi udah jadi kiper utama A.C Milan. Gajinya tiap tahun bisa ratusan miliar. Bayangin usia 17 tahun udah dapet uang segitu. Saya aja usia 17 tahun kadang masih mikir-mikir buat patungan bayar lapangan futsal. Hal kayak gini yang selalu memunculkan pertanyaan di kepala "Selama ini saya ngapain aja sih?"
Di dewasa muda ini kita resah apakah jalan yang sekarang dipilih udah bener. Di masa muda ini kita resah kenapa kita belum bisa lebih baik dari orang lain yang seumuran. Di dewasa muda ini kita resah apa pekerjaan yang cocok buat kita. Di dewasa muda ini kita resah kapan kita bisa segera mandiri dan nggak ngebebanin orangtua lagi. Di balik semua keresahan, kita hanya ingin masa depan kita bisa sebaik apa yang diinginkan dan diusahakan.
Saya nggak punya jawaban untuk mengatasi keresahan itu. Lah wong saya lagi resah-resahnya. Namun yang saya yakini saat ini, keresahan itu hal yang wajar dan bagian dari proses. Yang saya yakini saat ini, kita nggak perlu membandingkan hidup kita dengan orang lain karena apa yang mereka raih sebenernya belum tentu hal yang ingin kita raih juga. Yang saya yakini saat ini, tetaplah berusaha memerjuangkan apa sebenarnya impian kita. Yang saya yakini saat ini, tiap orang punya cara dan jalan yang berbeda untuk memastikan masa depan mereka baik-baik aja.
Saat kita resah, jangan jadikan itu hal yang membuat kita berhenti mengusahakan apa yang kita inginkan. Kita akan baik-baik aja.
Damn Son, harus lebih tenang (cegukan)
And take time, harus pikir panjang
Masalah ada untuk dilawan
Coba fokus buka mata lihat peluang
Buka mata, lihat dirimu
Tak masalah gapai mimpimu
I stick to the plan (cegukan)
I don't give a damn
No need to worry
We are gonna be all right (cegukan)
Sometimes we need to slow
(Ditulis oleh orang yang ingin menikah di usia 24.)
