Kamis, 15 Maret 2018

Menjadi Batman

Salah satu cita-cita saya jadi Batman. Iya, kamu nggak salah baca kok. Laki-laki yang udah berumur 23 tahun ini emang mengidolai Batman dari kecil. Kenapa? Alasan sederhananya karena kostum Batman warnanya hitam. Laki-laki dengan pakaian serba hitam itu nggak pernah salah. Tampak lebih gagah, elegan, dan yang paling penting ketika punggung basah karena keringetan, orang-orang nggak tau.

Laki-laki dan warna hitam emang nggak pernah salah, tapi kalo warna hitam ini dipake untuk background instastory, lalu terdengar sayup-sayup lagu galau ditambah beberapa penggal kalimat warna putih ditulis kecil... ya goodluck aja deh capernya.

Selasa, 09 Januari 2018

350-an Hari di 2018

Apakah cuma saya di sini yang merasa penting punya resolusi di awal tahun? 

Saya bertanya ke beberapa teman dan jawaban mereka kurang lebih sama, resolusi itu hanya seperti angin lalu. Awal tahun dibuat, akhir Januari udah lupa. Baru sebulan, resolusi udah kadaluwarsa. Saya tau mereka ada benernya, toh saya pun juga merasakan itu. Awal tahun rasanya menggebu-gebu ingin begini begitu, lalu ketika bertemu dengan Senin yang mana hari pertama masuk kuliah atau kerja, resolusi itu seakan lenyap seiring status 'back to reality' muncul di mana-mana. Yang terngiang di kepala hanya, kembalikan waktu libur kami! Ya maklum, resolusi dibuat ketika lagi libur tahun baru. Biasanya sesuatu emang terasa lebih menarik ketika belum dikerjain.  

Selasa, 12 Desember 2017

Yang Lebih Nikmat dari Gudeg Bromo

Malam itu salah seorang sobat, Virga, datang ke rumah saya untuk menginap. Setelah beberapa obrolan kecil, ternyata kami merasakan hal yang sama, lapar di tengah malam. Diputuskanlah untuk berangkat ke Gudeg Bromo (Bu Tekluk), salah satu kuliner malam di Jogja yang populer. Sedikit informasi, Gudeg Bromo baru buka sekitar jam 10 malam hingga 3 pagi. Kayaknya pemiliknya emang menyasar orang-orang yang sering laper di jam segitu ya. Namun bisa jadi sekarang kondisinya justru orang-orang sengaja nunda makan malam dan nahan lapar supaya bisa menyantap Gudeg Bromo dengan lebih nikmat. Saking terkenal enaknya gudeg ini. 

Sesampainya di Gudeg Bromo, saya dan Virga udah maklum melihat antrian yang mengular, padahal gudegnya baru buka sekitar setengah jam yang lalu. Seperti udah menjadi tradisi di sini, untuk bisa menyantapnya kita perlu ngantri sekitar setengah jam. Kalo lagi benar-benar rame, bisa lebih lama dari itu. Serame apa? Pokoknya bisa bikin driver Go-jek menolak pesanan go-food kita. Cancel aja, katanya. Ya tapi tentu ada usaha ada rasa. Ngantri selama itu emang selayaknya diganjar dengan gudeg yang sungguh nikmat. Seperti sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris, every day is one step closer to our dream. Pas ngantri Gudeg Bromo, tiap menit itu kita selangkah lebih dekat dengan tujuan kita, sang gudeg.